<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hendra Saleh</title>
	<atom:link href="http://hendrasaleh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hendrasaleh.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Feb 2011 05:57:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hendrasaleh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hendra Saleh</title>
		<link>http://hendrasaleh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hendrasaleh.wordpress.com/osd.xml" title="Hendra Saleh" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hendrasaleh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Macam-macam Air (bag.2)</title>
		<link>http://hendrasaleh.wordpress.com/2011/01/30/macam-macam-air-bag-2/</link>
		<comments>http://hendrasaleh.wordpress.com/2011/01/30/macam-macam-air-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Jan 2011 02:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hendrasaleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Perbandingan]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hendrasaleh.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[2. Air yang Bercampur dengan Sesuatu yang Suci Apabila air mutlak tersebut bercampur dengan sesuatu yang suci lagi, maka ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi. Kalau air tersebut bercampur dengan sabun, umut, tepung, atau benda lain yang biasanya terpisah dari &#8230; <a href="http://hendrasaleh.wordpress.com/2011/01/30/macam-macam-air-bag-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hendrasaleh.wordpress.com&amp;blog=10285429&amp;post=32&amp;subd=hendrasaleh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>2. Air yang Bercampur dengan Sesuatu yang Suci</strong></p>
<p><a href="http://hendrasaleh.files.wordpress.com/2011/01/air.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-33" title="air" src="http://hendrasaleh.files.wordpress.com/2011/01/air.jpg?w=244&#038;h=206" alt="bening" width="244" height="206" /></a>Apabila air mutlak tersebut bercampur dengan sesuatu yang suci lagi, maka ada dua kemungkinan yang mungkin terjadi. Kalau air tersebut bercampur dengan sabun, umut, tepung, atau benda lain yang biasanya terpisah dari air, dan mengubah salah satu sifatnya (rasa, warnua, bau) , sehingga tidak dapat dikatakan lagi air mutlak, maka hukumnya suci menurut seluruh ‘Ulama, tidak menyucikan menurut Imam Malik dan Syafi’I<a href="#_edn1">[i]</a>, dan menyucikan menurut Imam Abu Hanifah, selama perubahan tersebut bukan karena dimasak<a href="#_edn2">[ii]</a>.<span id="more-32"></span>Sedangkan apabila kemutlakan air tersebut tetap terpelihara, maka hukumnya tetap suci menyucikan<a href="#_edn3">[iii]</a>.</p>
<p>Ibnu Rusydi Al Hafiid berkata, “Yang benar adalah bahwa percampuran tersebut tergantung pada jumlahnya, sedikit atau banyak. Terkadang percampuran itu sebegitu banyaknya sehingga air tersebut tidak bisa lagi disebut air mutlak, seperti ‘Air Mandi’<a href="#_edn4">[iv]</a>. Dan terkadang tidak sampai demikian meskipun percampurannya banyak, terutama kalau yang berubah hanya baunya saja. Karenanya, sebagian orang sebagian orang tidak menganggap perubahan bau sebagai hal yang menyebabkan hilangnya status mutlak.”<a href="#_edn5">[v]</a></p>
<p>Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah, dia bekata:</p>
<p><em>“Rasulullah SAW masuk ke ruangan kami pada hasi ketika putrinya—Zainab—wafat. Lalu beliau berkata, ‘Mandikanlah ia tiga atau lima kali atau lebih banyak lagi jika kalian mau, dengan air yang dicampur dengan daun bidara. Setelah itu campurlah air itu dengan kapur barus atau sedikit darinya. Jika telah selesai beritahukanlah padaku.’ Setelah memandikan kamipun memberitahukan pada Nabi. Kemudian beliau menyerahkan kain kafan untuknya seraya berkata, ‘balutkanlah kain ini pada rambutnya!’”</em> (H.R. Jamaah).</p>
<p>Dalam Hadits lain:</p>
<p><em>“Dari Ummu Hani` bahwa Nabi SAW mandi bersama Maimunah dari sebuah bejana, yaitu sebuah pasu yang di dalamnya terdapat sisa tepung.”</em> (H.R. Ahmad, An Nasa’I, dan Ibnu Khuzaimah).</p>
<p>Sayyid Sabiq berkata, “Dalam dua hadits tersebut terdapat percampuran, akan tetapi percampuran itu tidak menyebabkan hilangnya status mutlak dari air tersebut.”<a href="#_edn6">[vi]</a></p>
<p>baca juga: Macam-macam Air <a href="http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/07/kitab-thaharah/">(bag.1)</a></p>
<div>
<hr size="1" />
<div>
<p><a href="#_ednref1">[i]</a> Al Umm, (1/17)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ednref2">[ii]</a> Bidayatul Mujtahid, (1/25)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ednref3">[iii]</a> Fiqhussunnah, (1/18)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ednref4">[iv]</a> Istilah &#8216;Air Mandi&#8217; (Maa`ul ghasaalah) sering dipakai oleh para &#8216;Ulama Asy-Sysfi&#8217;iyah dan Hanafiyah untuk air telah dipakai untuk mandi sehingga berubah salah satu sifatnya. Akan tetapi, sebagian dari mereka berlebihan sampai-sampai setiap air musta&#8217;mal mereka namakan <em>maa`ul ghasaalah,</em> sehingga hilang status mutlaknya dan dianggap tidak menyucikan lagi.</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ednref5">[v]</a> Bidayatul Mujtahid, (1/26)</p>
</div>
<div>
<p><a href="#_ednref6">[vi]</a> Fiqhussunnah, (1/18)</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hendrasaleh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hendrasaleh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hendrasaleh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hendrasaleh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hendrasaleh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hendrasaleh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hendrasaleh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hendrasaleh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hendrasaleh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hendrasaleh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hendrasaleh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hendrasaleh.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hendrasaleh.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hendrasaleh.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hendrasaleh.wordpress.com&amp;blog=10285429&amp;post=32&amp;subd=hendrasaleh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hendrasaleh.wordpress.com/2011/01/30/macam-macam-air-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3836e2130132f5478fb2f18ddf5e679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hendrasaleh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hendrasaleh.files.wordpress.com/2011/01/air.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">air</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjual Kulit Hewan Qurban</title>
		<link>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/30/menjual-kulit-hewan-qurban/</link>
		<comments>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/30/menjual-kulit-hewan-qurban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 13:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hendrasaleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab Syari&#039;ah]]></category>
		<category><![CDATA[daging]]></category>
		<category><![CDATA[hewan]]></category>
		<category><![CDATA[jual]]></category>
		<category><![CDATA[kambing]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[kulit]]></category>
		<category><![CDATA[menyembelih]]></category>
		<category><![CDATA[qurban]]></category>
		<category><![CDATA[sapi]]></category>
		<category><![CDATA[unta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hendrasaleh.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah boleh kulit hewan qurban dijual lalu dibelikan daging yang kemudian dagingnya dibagikan bersama daging yang lainnya? Bagaimana hukumnya menyembelih hewan qurban yang uangnya didapat dari iuran? Jawaban: Bismillah&#8230; Wash shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah&#8230; Pertama, para ulama sepakat &#8230; <a href="http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/30/menjual-kulit-hewan-qurban/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hendrasaleh.wordpress.com&amp;blog=10285429&amp;post=24&amp;subd=hendrasaleh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah boleh kulit hewan qurban dijual lalu dibelikan daging yang kemudian dagingnya dibagikan bersama daging yang lainnya? Bagaimana hukumnya menyembelih hewan qurban yang uangnya didapat dari iuran?<br />
<span id="more-24"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Bismillah&#8230; Wash shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah&#8230;</p>
<p><em><strong>Pertama</strong>, </em>para ulama sepakat bahwa daging hewan qurban tidak boleh dijual, akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang kulit, bulu, ekor, tanduk dan bagian lain yang bermanfaat dari tubuh hewan qurban tersebut. <em>Jumhur</em> (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukum menjual daging, kulit, bulu, ekor, tanduk atau bagian lainnya dari hewan quban adalah tidak boleh<a href="#_ftn1">[1]</a>, berdasarkan hadits Ali bin Abu Thalib, beliau berkata,</p>
<p>عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ، وَأَنْ أُقَسِّمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا عَلَى الْمَسَاكِينِ ، وَلَا أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا شَيْئًا مِنْهَا</p>
<p>“Rasulullah s.a.w. menyuruhku untuk menyembelih untanya, dan beliau menyuruhku untuk membagi-bagikan dagingnya dan kulitnya kepada orang-orang miskin, serta tidak menjadikannya sebagai upah bagi orang yang menguliti dan memotongnya.” (Muttafaq ‘alaih)<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Imam Taqiyyuddin Ad Dimasyqi Asy Syafi’i berkata, “Ketahuilah, bahwa inti dari qurban itu adalah pemanfaatan hewan qurban, maka daging qurban tidak boleh dijual. Bahkan kulitnya pun tidak boleh dijual atau dijadikan sebagai upah bagi orang yang menguliti dan memotong-motongnya, akan tetapi jadikanlah sebagai shadaqah.”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa kulit hewan qurban tidak boleh dijual dengan menggunakan dinar atau dirham (mata uang), tetapi boleh apabila dengan <em>al ‘ardh/al ‘urudh </em>(ditukar dengan benda lain selain uang). Karena, menurut beliau, <em>al ‘ardh</em> tidak keluar dari batasan <em>intifa’</em> (pemanfaatan).<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Sedangkan Imam ‘Atha berpendapat bahwa kulit hewan qurban boleh dijual secara mutlak, baik dengan dinar, dirham, atau dengan cara <em>al ‘ardh.</em> <a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kesimpulannya, inti dari qurban adalah pemanfaatan hewan qurbannya itu sendiri, dari mulai daging, kulit, bulu, tanduk dan lain-lain, bukan nilai nominal atau harga dari bagian tubuh hewan tersebut. Dagingnya untuk dimakan (sepertiganya untuk orang yang berqurban), sedangkan bagian lainnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Bila orang yang berqurban ingin memanfaatknnya untuk dirinya sendiri, maka hal itu boleh, akan tetapi bila ia ingin menyedekahkannya, maka ia harus memberikan bagian-bagian tersebut dalam bentuk aslinya, tidak dalam bentuk lain (baik dalam bentuk uang hasil penjualannya atau benda lain yang senilai dengannya). Karena nash dalam hadits tersebut dengan jelas mengatakan <em>membagi-bagikan dagingnya dan kulitnya.</em></p>
<p><em><strong>Kedua</strong>, </em>para ulama berpendapat bahwa kambing atau domba hanya boleh diniatkan untuk satu orang pengurban saja, sedangkan satu ekor sapi, kerbau, atau unta cukup untuk jumlah pengurban sebanyak tujuh orang, dengan syarat ketujuh orang tersebut berniat sama yaitu berqurban dengan tujuan <em>taqarrub</em> kepada Allah s.w.t.<a href="#_ftn6">[6]</a> Hal ini berdasarkan hadits Jabir r.a. dia berkata,</p>
<p>نَحَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ الْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ</p>
<p>“Pada tahun Hudaibiah<a href="#_ftn7">[7]</a>, kami bersama Rasulullah s.a.w. menyembelih unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.” (H.R. Muslim)<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Adapun bila yang antum maksud adalah membeli hewan qurban yang didapat dari uang iuran bersama-sama—seperti yang diselenggarakan di sekolah-sekolah atau kampus-kampus—maka hal tersebut secara hukum tidak termasuk qurban, kecuali apabila penyelenggaraan qurban tersebut sesuai dengan ketentuan di atas. Akan tetapi, tujuan dari penyelenggaraan qurban tersebut adalah untuk melatih dan mendidik para siswa agar mereka tahu dan paham hakikat dan tujuan qurban, serta untuk menumbuhkan rasa kepedulian mereka terhadap sesama. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat <em>Bidayatul Mujtahid</em> (1/352), <em>Fiqh Sunnah</em> (4/180), <em>Kifaytul Akhyar</em> (2/195), <em>Subulus Salam</em> (4/177).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Lihat <em>Subulus Salam</em> (4/176, hadits no. 8 Bab <em>Al Adhaahi</em>).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Kifaytul Akhyar</em> (2/195).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a>Lihat  <em>Ad Durr Al Mukhtar</em> (5/642).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat <em>Bidayatul Mujtahid</em> (1/352).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Bidayatul Mujtahid </em>(1348-349), <em>Fiqh Sunnah</em> (4/179-180).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Maksudnya tahun ketika terjadi Perjanjian Hudaibiah.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Subulus Salam</em> (4/176, hadits no. 9 Bab <em>Al Adhaahi</em>).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hendrasaleh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hendrasaleh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hendrasaleh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hendrasaleh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hendrasaleh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hendrasaleh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hendrasaleh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hendrasaleh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hendrasaleh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hendrasaleh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hendrasaleh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hendrasaleh.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hendrasaleh.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hendrasaleh.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hendrasaleh.wordpress.com&amp;blog=10285429&amp;post=24&amp;subd=hendrasaleh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/30/menjual-kulit-hewan-qurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3836e2130132f5478fb2f18ddf5e679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hendrasaleh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Haji Orang yang Berutang</title>
		<link>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/08/haji-orang-yang-berutang/</link>
		<comments>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/08/haji-orang-yang-berutang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 02:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hendrasaleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab Syari&#039;ah]]></category>
		<category><![CDATA[dagang]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[qaradhawi]]></category>
		<category><![CDATA[utang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hendrasaleh.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana hukumnya orang yang pergi haji sedangkan ia punya utang terhadap bank, sementara kita tahu bahwa ia berkewajiban untuk melunasi utangnya? Dan bagaimana hukumnya seorang pedagang yang memiliki utang tapi juga memiliki piutang, apakah ia juga boleh melaksanakan haji? &#8230; <a href="http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/08/haji-orang-yang-berutang/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hendrasaleh.wordpress.com&amp;blog=10285429&amp;post=21&amp;subd=hendrasaleh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Bagaimana hukumnya orang yang pergi haji sedangkan ia punya utang terhadap bank, sementara kita tahu bahwa ia berkewajiban untuk melunasi utangnya? Dan bagaimana hukumnya seorang pedagang yang memiliki utang tapi juga memiliki piutang, apakah ia juga boleh melaksanakan haji?<br />
<span id="more-21"></span><br />
<strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Bismillah Wash shalatu Was salamu &#8216;al Rasulillah&#8230;</p>
<p>Apabila utang tersebut berbentuk cicilan dan pihak bank mengambil utang tersebut darinya secara berkala-seperti orang yang mengkredit mobil lewat perantara bank, dan pihak bank mengambil angsurannya dengan cara memotong gajinya setiap bulan secara teratur-maka ia boleh melaksanakan haji meskipun cicilannya belum lunas, karena cicilan tersebut  diambil dari gajinya secara teratur.</p>
<p>Adapun utang perdagangan, maka hal tersebut tidak menghalangi seorang muslim untuk melaksanakan ibadah haji. Karena utang-piutang tersebut merupakan harta yang terus berputar dan hal itu merupakan keniscayaan bagi seorang pedagang. Yang penting adalan harta yang dimilikinya lebih banyak daripada utangnya, atau setidaknya sama banyaknya dalam artian ia mampu untuk melaksanakan ibadah haji tersebut. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>[Mufti: Syekh Yusuf Qaradhawi, lihat: <a href="http://www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&amp;item_no=7325&amp;version=1&amp;template_id=220&amp;parent_id=17" target="_blank"><strong>qaradawi.net</strong></a>]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hendrasaleh.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hendrasaleh.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hendrasaleh.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hendrasaleh.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hendrasaleh.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hendrasaleh.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hendrasaleh.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hendrasaleh.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hendrasaleh.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hendrasaleh.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hendrasaleh.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hendrasaleh.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hendrasaleh.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hendrasaleh.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hendrasaleh.wordpress.com&amp;blog=10285429&amp;post=21&amp;subd=hendrasaleh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/08/haji-orang-yang-berutang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3836e2130132f5478fb2f18ddf5e679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hendrasaleh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kitab Thaharah</title>
		<link>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/07/kitab-thaharah/</link>
		<comments>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/07/kitab-thaharah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 01:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hendrasaleh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Perbandingan]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[thaharah]]></category>
		<category><![CDATA[wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hendrasaleh.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Para ‘Ulama sepakat bahwa Thaharah itu ada dua macam; Thaharah dari Hadats dan Thaharah dari Khabats (Najis). Dan mereka sepakat bahwa Thaharah dari Hadats mencakup tiga macam, yaitu Wudhu, Mandi, dan pengganti keduanya yaitu Tayammum. Karena pembahasan mengenai Thaharah dari &#8230; <a href="http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/07/kitab-thaharah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hendrasaleh.wordpress.com&amp;blog=10285429&amp;post=17&amp;subd=hendrasaleh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para ‘Ulama sepakat bahwa Thaharah itu ada dua macam; Thaharah dari Hadats dan Thaharah dari Khabats (Najis). Dan mereka sepakat bahwa Thaharah dari Hadats mencakup tiga macam, yaitu Wudhu, Mandi, dan pengganti keduanya yaitu Tayammum.<br />
<span id="more-17"></span><br />
Karena pembahasan mengenai Thaharah dari Hadats ini sangat luas dan cakupannya juga luas, maka terlebih dahulu kita akan membahas Thaharah dari Khabats. Pembahasan ini tidak terlepas dari tiga hal; macam-macam air, macam-macam najis, dan cara menyucikan sesuatu dari najis, baik itu pakaian, badan, tempat, dan lain-lain.</p>
<p><strong>A. Jenis-jenis Air</strong></p>
<p><strong>1. Air Mutlak</strong></p>
<p>Pada dasarnya, air yang belum bercampur dengan apapun adalah suci menyucikan, dan para ‘Ulama menamakannya Air Mutlak. Artinya, selama air itu tidak dikaitkan dengan benda lain—yang diakibatkan dari pencampuran; seperti air susu, air teh, air madu, dan lainnya, maka air tersebut dinamakan air mutlak dan hukumnya suci dan menyucijkan.</p>
<p>Diantara air yang termasuk kedalam air mutlak adalah sebagai berikut<a href="#_edn1">[i]</a>:</p>
<p>a. Air hujan, salju atau es, dan air embun. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:</p>
<p><em>“…Dan Allah menurunkan padamu air (hujan) dari langit untuk menyucikan kamu dengannya…”</em>(Q.S. Al Anfaal:11).</p>
<p><em>“…Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih.” </em>(Q.S. Al Furqaan:48).</p>
<p>Juga berdasarkan dari hadits Abu Hurairah r.a.,</p>
<p><em>“Jika Rasulullah SAW membaca takbir di dalam shalat, maka beliau diam sejenak sebelum membaca Al Faatihah. Aku pun bertanya, ‘Demi kedua orangtuaku wahai Rasulullah! Apakah yang engkau baca ketika diam diantara takbir dan Al Faatihah?’ Rasululah pun menjawab, ‘Aku membaca: Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana engkau menjauhkan timur dari barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari kotoran. Ya Allah , sucikanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun.” </em>(H.R. Jama’ah kecuali Tirmidzi).</p>
<p>b. Air laut. Hal tersebut berdasarkan dari Hadits Abu Hurairah r.a.,</p>
<p><em>“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Ya Rasulullah, kami biasa berlayar di lautan dan hanya membawa air sedikit. Jika kami pakai air itu untuk berwudhu, akibatnya kami akan kehausan, apakah kami boleh berwudhu dengan air laut?’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Laut itu airnya suci lagi menyucikan, dan bengkainya halal dimakan.” </em>(H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan An Nasa’i).</p>
<p>c. Air Telaga Zamzam, sebagaimana diriwayatkan dari Ali r.a. <em>bahwa Rasulullah SAW meminta seember penuh air Zamzam, lalu diminumnya sedikit dan dipakainya untuk berwudhu. </em>(H.R. Ahmad).</p>
<p>d. Air yang berubah disebabkan lama tergenang atau tidak mengalir, atau bercampur dengan sesuatu yang memang biasanya tidak terpisaah dari air, seperti lumut dan daun-daun kayu, maka menurut ijma’ ‘Ulama air tersebut tetap ternasuk air mutlak.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ednref1">[i]</a> Fiqhussunnah, (1/16-17)</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hendrasaleh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hendrasaleh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hendrasaleh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hendrasaleh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hendrasaleh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hendrasaleh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hendrasaleh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hendrasaleh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hendrasaleh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hendrasaleh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hendrasaleh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hendrasaleh.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hendrasaleh.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hendrasaleh.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hendrasaleh.wordpress.com&amp;blog=10285429&amp;post=17&amp;subd=hendrasaleh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hendrasaleh.wordpress.com/2009/11/07/kitab-thaharah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3836e2130132f5478fb2f18ddf5e679?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hendrasaleh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
